
Gereja senantiasa dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Dengan keberadaannya di dunia, maka Gereja menemukan tantangan sekaligus peluang. Untuk menghadirkan wajah Allah yang senantiasa menyemai semangat persaudaraan dan perdamaian.
Inilah panggilan setiap orang kristiani yang sudah dibaptis. Yakni, berperan serta secara aktif ikut mewujudnyatakan persaudaraan dan perdamaian. Hal ini terbukti dalam sejarah panjang Gereja sepanjang masa.
Ikut mewarnai sejarah Gereja
Di situ telah muncul banyak tokoh yang gagasan-gagasan spiritual dan laku hidupnya selalu meretas inspirasi-inspirasi cemerlang sekaligus kudus. Memotivasi banyak orang umau melibatkan diri untuk memperbaharui semangat segenap anggota Gereja. Dengan memberi kesaksian akan panggilan sejatinya sebagai kaum beriman kristiani. Salah satu tokohnya adalah Santo Fransiskus Assisi (1182-1226. Ia ikut mengisi sejarah testimonial Gereja kurun waktu sepanjang akhir abad X sampai awal abad
Santo Fransiskus Assisi berasal dari keluarga kaya raya. Ia menjalani hidup kesehariannya serba sangat berkecukupan. Sejarah hidupnya
mencatat, pola hidup Fransiskus sungguh diwarnai dengan berbagai macam ketertarikan akan hal-hal duniawi sekaligus ilahi. Namun sekali
waktu, Fransiskus Assisi benar-benar mampu menangkap seruan ajakan dan panggilan Allah agar bersedia ikut “memperbaharui” Gereja-Nya. Di kemudian hari, keberanian dan kesetiaannya kepada panggilan Allah ini harus “dibayar” sangat mahal. Karena ia harus menjalani langkah pertobatan sangat radikal.
Dari hidup penuh atmosfir kemewahan dan sangat menikmati semangat hedonis -suka mencari kesenangan ragawi- Fransiskus akhirnya rela meninggalkan gaya hidupnya yang serba sangat profan itu dan selanjutnya melakukan metanoia. Ia serta-merta rela menjalani pola hidup serba baru sebagai benar-benar menjadi “orang miskin”. Ia menjalani gaya hidup baru dengan bermodalkan semangat kemiskinan dan itu dia jalani dengan cara meminta-minta; menyediakan diri tinggal bersama orang-orang kusta.
Pola hidup baru
Dengan memeluk semangat kemiskinan, Fransiskus mulai menjalani hidup baru; memberi kesaksian akan semangat Injil melalui gaya hidupnya. Menjadi sedemikian menariknya hingga hal itu mampu memantik rasa simpati dan memikat banyak orang di zamannya untuk kemudian bersama-sama menanggapi panggilan Allah. Dilakukan dengan dan melalui langkah pertobatan.
Santo Fransiskus Assisi menggantungkan seluruh hidupnya pada Allah; menjadikan Injil-Nya sebagai pedoman hidupnya dan kelak juga ikatan persaudaraannya. Ia mampu bertahan sampai akhir, karena serius menjalaninya dalam semangat pertobatan terus-menerus.
Hal itu juga memampukannya mengikuti kehendak Allah dan Gereja-Nya; bukan kehendaknya sendiri.
Banyak teladan hidup diwariskan oleh Santo Fransiskus Assisi kepada para pengikutnya, Gereja, dan seluruh dunia.